Hasil kajian ttg rotan, kehutanan dan lingkungan

Merusak Alam dan Hutan Berarti Menghancurkan Kehidupan Manusia

Haffuaddi Hatta |  6 April 2010  |  15:52

 

Eksistensi manusia sangat tergantung kepada kondisi alam. Tak jarang manusia mengalami kesulitan dan penderitaan karena alam yang tidak bersahabat dengan mereka. Terjadinya tsunami di Aceh, berakibat meninggalnya ± 100.000 orang dalam seketika. Gempa di Nias, Yogyakarta dan Sumatera Barat, juga membawa korban sampai ribuan orang. Lonsor yang terjadi di beberapa daerah, juga membawa korban jiwa. Letusan gunung api yang disertai dengan gempa vulkanik, juga membuat manusia dan makhluk hidup lainnya di bumi ini menderita. Seluruh dari peristiwa ini disebabkan karena ketidak-seimbangan alam.

 

Ada beberapa faktor yang menyebabkan ketidak-seimbangan alam, diantaranya: degradasi hutan, ekploitasi besar-besaran terhadap sumber daya alam, pembakaran hutan, konversi kawasan hutan menjadi perkebunan dan transmigrasi. Padahal, Indonesia merupakan salah satu negara di dunia dengan luas hutan terbesar, yaitu 120,3 juta hektar. Bedasarkan hasil survey Forest Watch Indonesia (FWI) dan Global Forest Watch (GFW) tahun 2001, seratus tahun yang lalu Indonesia masih memiliki hutan yang melimpah, pohon-pohonnya menutupi 80 sampai 95 persen dari luas total lahan. Tutupan total hutan pada waktu itu diperkirakan sekitar 170 juta hektar.(Diki kurniawan,2007) Dari 44 negara yang secara kolektif memiliki 90% hutan di dunia, negara yang meraih tingkat laju deforestasi tahunan tercepat di dunia adalah Indonesia, dengan 1,871 juta hektar hutan dihancurkan per tahun antara 2000 hingga 2005. Artinya, setiap harinya 51 kilometer persegi hutan di Indonesia hancur (tingkat kehancuran hutan sebesar 2% setiap tahunnya) atau setara dengan 300 lapangan bola setiap jamnya.(Media Indonesia, 5 Juni 2008) Berdasarkan data FWI dan GFW (2001) tercatat bahwa Indonesia masih memiliki hutan yang lebat pada tahun 1950. Sekitar 40 persen dari luas hutan pada tahun 1950 ini telah ditebang dalam waktu 50 tahun berikutnya. Jika dibulatkan, tutupan hutan di Indonesia turun dari 162 juta hektar menjadi 98 juta hektar.

Laju kehilangan hutan semakin meningkat. Pada tahun 1980-an laju kehilangan hutan di Indonesia rata-rata sekitar 1 juta hektar per tahun, kemudian meningkat menjadi sekitar 1,7 juta hektar per tahun pada tahun-tahun pertama 1990-an. Sejak tahun 1996, laju deforestasi tampaknya meningkat lagi menjadi rata-rata 2 juta hektar per tahun, tapi pada tahun 2006 laju deforetasi menjadi 1,8 juta hektar per tahun.(Diki kurniawan,2007)

Sementara, beberapa tahun terakhir ini, wilayah hutan yang luas telah banyak diubah menjadi perkebunan kelapa sawit. Perkebunan kelapa sawit di Indonesia bertambah dari 600.000 hektar di tahun 1985 hingga lebih dari 4 juta hektar pada awal 2006 ketika pemerintah mengumumkan rencana untuk mengembangkan 3 juta hektar tambahan untuk perkebunan kelapa sawit di tahun 2011. Kelapa sawit (Elaeis guineensis) adalah tanaman perkebunan yang sangat menarik, karena merupakan minyak sayur termurah dan memproduksi lebih banyak minyak per hektar bila dibandingkan dengan bibit minyak lainnya. Di masa ketika harga energi cukup tinggi, minyak sawit tampak sebagai jalan terbaik untuk memenuhi meningkatnya permintaan biofuel sebagai sumber energi alternatif.(Rhett Butler, 2008)

Indonesia merupakan rumah dari hutan hujan terluas di seluruh Asia, meski Indonesia terus mengembangkan lahan-lahan tersebut untuk mengakomodasi populasinya yang semakin meningkat serta pertumbuhan ekonominya. Sekitar tujuh belas ribu pulau-pulau di Indonesia membentuk kepulauan yang membentang di dua alam biogeografi -Indomalayan dan Australasian- dan tujuh wilayah biogeografi, serta menyokong luar biasa banyaknya keanekaragaman dan penyebaran spesies. Dari sebanyak 3.305 spesies amfibi, burung, mamalia, dan reptil yang diketahui di Indonesia, sebesar 31,1 persen masih ada dan 9,9 persen terancam. Indonesia merupakan rumah bagi setidaknya 29.375 spesies tumbuhan vaskular, yang 59,6 persennya masih ada. (Rhett Butler, 2008)

Saat ini, hanya kurang dari separuh Indonesia yang memiliki hutan. Hal ini merepresentasikan penurunan signifikan dari luasnya hutan pada awalnya. Antara 1990 dan 2005, negara ini telah kehilangan lebih dari 28 juta hektar hutan, termasuk 21,7 persen hutan perawan. Penurunan hutan-hutan primer yang kaya secara biologi ini adalah yang kedua di bawah Brazil pada masa itu, dan sejak akhir 1990an, penggusuran hutan primer makin meningkat hingga 26 persen. Kini, hutan-hutan Indonesia adalah beberapa hutan yang paling terancam di muka bumi. (Rhett Butler, 2008)

Dalam kondisi alam yang seperti ini, manusia sulit mendapatkan keamanan dan mendapatkan kehidupan yang layak. Karena untuk membangun sebuah kehidupan yang diharapkan, tidak mungkin dapat dilaksanakan dalam kondisi yang seperti ini. Manusia sangat membutuhkan keseimbangan alam untuk menciptakan suatu kehidupan yang damai dan makmur, sehingga eksistensi manusia di bumi ini berbanding sejajar dengan kelestarian alam.

Merusak alam berarti merusak kehidupan manusia di bumi ini dan juga memusnahkan keberadaan makhluk hidup lainnya di bumi ini. Hutan, sungai, laut dan semua kekayaan bumi yang terkandung di dalam perutnya merupakan bagian dari alam tersebut, yang jika tidak seimbang akan memunculkan respon yang negatif seperti bencana alam, yang kemudian akan menggoncang eksistensi kehidupan manusia dan seluruh makhluk hidup yang hidup di bumi ini.

Pelestarian alam atau menjaga keseimbangan alam merupakan keharusan bagi manusia untuk dilakukan. Semua sumber daya dan pemikiran harus dicurahkan untuk menyelamatkan bumi ini dari kehancuran, apalagi belakangan bumi makin terancam. Di setiap negara muncul industri-industri baru yang menghasilkan zat karbon yang dibuang ke udara dan juga bertambahnya jumlah pemakaian mobil dan motor yang menghasilkan karbon. Walaupun sekarang sudah banyak mobil yang menggunakan bahan bakar biofuel, tetapi jumlahnya jauh lebih sedikit dari mobil yang merupakan penghasil karbon dioksida (carbon dioxide sink).

Disamping itu, eksploitasi dan eksplorasi semakin meningkat. Beberapa perusahaan di dunia, baik yang Internasional, nasional maupun yang lokal, yang memiliki modal besar melakukan eksporasi dan eksploitasi pertambangan, minyak bumi dan gas secara besar-besaran, seperti: semakin meningkatnya jumlah perusahaan tambang, minyak dan yang beroperasi di kabupaten Batanghari dan Merangin yang penulis pernah lihat. Seperti PT Canoco Philip dalam bidang gas, PT Cinoc dalam bidang perminyakan dan PT Bukit Tambih dalam bidang batu bara di Kabupaten Batanghari. Sementara, di Kabupaten Merangin, ada beberapa pertambangan besi seperti PT Putra Sako Mining dan PT Sitasa Energy yang berada di Pulau Layang, Kecamatan Nalo Tantam.(KKI Warsi, 2009)

Ironisnya, peningkatan pertumbuhan perusahaan pertambangan tidak berbanding sejajar dengan kelestarian alam, justru yang terjadi malah sebaliknya. Menurut Rhett Butler (2008), jumlah hutan-hutan di Indonesia sekarang ini makin turun dan banyak dihancurkan berkat penebangan hutan, penambangan, perkebunan agrikultur dalam skala besar, kolonisasi, dan aktivitas lain yang substansial, seperti memindahkan pertanian dan menebang kayu untuk bahan bakar. Luas hutan hujan semakin menurun, mulai tahun 1960an ketika 82 persen luas negara ditutupi oleh hutan hujan, menjadi 68 persen di tahun 1982, menjadi 53 persen di tahun 1995, dan 49 persen pada 2008. Bahkan, banyak dari sisa-sisa hutan tersebut yang bisa dikategorikan hutan yang telah ditebangi dan terdegradasi.(Rhett Butler, 2008)

Hutan makin terdegradasi, sungai makin tercemari dan kekayaan alam semakin dieksploitasi secara besar-besaran. Kondisi ini berdampak buruk bagi penduduk yang tinggal di dalam kawasan dan di sekitar kawasan yang rusak tersebut, dan juga berdampak buruk bagi penduduk seluruhnya. Salah satu contoh: Orang Rimba yang merupakan penduduk asli kawasan hutan yang ada di Jambi terpaksa harus menyingkir dan berkeliaran di jalan-jalan lintas untuk mencari penghidupannya. Kawasan tempat tinggalnya yang dahulu masih berhutan seperti di Daerah Pamenang, Talang Kawo, Maro Delang, Kuamang Kuning, SPI dan Pelepat, sekarang sudah dibuka untuk perkebunan dan transmigrasi, juga untuk pertambangan. Dulu, Orang Rimba sangat mengantungkan hidupnya dari mencari hasil hutan non kayu seperti getah balam, rotan, jernang, trenggiling, babi, kijang dan kancil. Itu semua sangat sulit didapatkan sekarang karena hutan telah dibuka.

Selain itu, kerusakan alam dan hutan juga merampas kehidupan komunitas melayu maupun komunitas suku penghulu atau masyarakat lokal yang hidup disepanjang sungai-sungai besar di Jambi, baik yang disebabkan oleh semakin terbukanya kawasan hutan, semakin tercemarnya sungai maupun semakin sempitnya lahan pertanian karena pemberian HPH oleh pemerintah kepada perusahaan-perusahaan HTI dan APL (perkebunan dan pertambangan), dimana masyarakat lokal tersebut masih sangat tergantung pada aliran air sungai (DAS) untuk kebutuhan harian, seperti: mencuci, mandi dan minum. Juga masih sangat tergantung dengan perkebunan dan pertanian, dimana sumber pendapatannya masih bergantung pada perkebunan karet dan hasil hutan non kayu lainnya.

Additional information