Hasil kajian ttg rotan, kehutanan dan lingkungan

PENGUNAAN ROTAN

 

Dari ratusan jenis (species) rotan yg ada di Indonesia, saat ini hanya 7 – 10 jenis yang populer dipergunakan sebagai bahan baku untuk pembuatan mebel dan kerajinan rotan di dalam negeri. Itupun hanya terpakai pada ukuran diameter tertentu saja.

Potensi produksi rotan yg dapat dipungut secara lestari dari hutan Indonesia adalah 400 – 600 ribu ton per tahun (setara dengan 200 – 300 ribu ton asalan). Sedangkan pemakaian oleh industri mebel dan kerajinan rotan dalam negeri hanya 50 – 60 ribu ton per tahun itupun terbatas pada 7 – 10 species dengan ukuran diameter tertentu saja.

Banyak jenis rotan yang tidak dipergunakan sebagai bahan baku dalam pembuatan mebel dan kerajinan, tetapi mempunyai kegunaan lain oleh konsumen mancanegara, diantaranya:

1. Rotan Sahutang: tahan dan awet air laut, warna ruas menarik.

a. Dibundle sebagai penyangga Dermaga maupun kapal pesiar

b. Dijadikan rumpon ikan di dasar laut atau sungai

c. Dijadikan hiasan ruangan dalam bentuk natural dengan posisi berdiri berjejer

2. Rotan Taimanuk: ruasnya menonjol dan kadang bercabang. Dipergunakan dalam bentuk natural w/s sebagai hiasan ruangan.

3. Rotan Pato dan Rotan Botol: diameter besar digunakan sebagai tongkat pembersihan cerobong asap rumah menjelang datangnya musim dingin.

4. Hati rotan tertentu (diameter 20 mm up) untuk mengisi pipa kerangka/tiang sepeda

5. Rotan Tarumpu, Baracung: bersifat keras dan kaku, sebagai gagang pembuatan sapu pembersih lantai dan plafon.

Terdapat ratusan ribu petani/pemungut rotan dan pekerja pada industri pengolahan bahan baku rotan berada di daerah sentra produksi rotan terutama di luar pulau Jawa yang sangat tergantung pada kelangsungan usaha ini.

Belum dan tidak adanya wadah atau terminal yang menampung semua rotan yang tidak dipakai oleh industri mebel/kerajinan dalam negeri sehingga kelangsungan hidup petani/pemungut maupun industri bahan baku rotan, menjadi tdk terjamin apabila ekspor rotan dihentikan.

Agar kegunaan rotan semakin diperkenalkan, bukan semata-mata dipergunakan sebagai bahan baku dalam pembuatan mebel dan kerajinan.

Industri mebel / kerajinan rotan dalam negeri harus makin menggalakkan pemakaian bahan baku rotan (natural) jangan justru mempopulerkan penggunaan barang substitusi (imitasi) dan rangka aluminium.

Agar pemerintah memperluas kebijakan ekspor rotan dan mengijinkan ekspor rotan dalam bentuk natural washed & sulphured, karena:

· Tidak semua jenis rotan dapat diproses menjadi rotan poles, hati rotan dan kulit rotan

· Kegunaan rotan species tertentu hanya dalam bentuk W/s

Terhentinya ekspor bahan baku rotan secara alamiah saja, tidak perlu diatur dalam target waktu tetapi tergantung kepada daya serap dari industri mebel/kerajinan dalam negeri. Jika industri dalam negeri sudah dapat menyerap mayoritas produksi rotan, maka dengan sendirinya ekspor akan berkurang.

Pemerintah diharapkan membuat kebijakan yang dapat mendorong pengembangan industri mebel/kerajinan nasional sehingga industri ini dapat berkembang yang akhirnya dapat menyerap semua produk bahan baku rotan Indonesia.

 

Additional information