Berita Rotan dan Produk Rotan, Mebel dan Kerajinan Indonesia
Ambang Lestari Rotan
- Details
- Last Updated on Friday, 04 November 2011 16:32
- Published on Friday, 04 November 2011 16:32
- Hits: 9402
Jakarta, Kompas -
”Rotan kita bukan hasil budidaya, tetapi diambil langsung dari hutan. Kalau eksploitasinya terus-terusan, kelestarian hutan akan terancam. Ini menjadi salah satu alasan penting kenapa kami memutuskan menghentikan ekspor rotan,” kata Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi di Jakarta, Kamis (3/11).
Ketika ditanya soal solusi jangka pendek untuk penyerapan rotan petani, Bayu mengatakan pihaknya masih membahasnya.
Secara terpisah, Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Perdagangan, Distribusi, dan Logistik Natsir Mansyur meminta pemerintah tidak mengambil keputusan sepihak terkait stop ekspor rotan. Kadin meminta Peraturan Menteri Perdagangan stop ekspor rotan ditunda.
”Kami harap pemerintah tidak terburu-buru mengambil keputusan karena masih ada tarik- menarik kepentingan berbagai pihak, terutama pelaku industri dengan eksportir rotan,” ujarnya.
Natsir menilai, tata niaga rotan dengan menerapkan resi gudang bukanlah langkah tepat. Lewat resi gudang, petani rotan akan bersinggungan dengan bunga bank yang tinggi dan ketidakpastian kapan rotan terjual.
Kebijakan ini juga mengundang protes di berbagai wilayah. Sedikitnya 1.000 orang pemetik dan pengumpul rotan di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, menuntut pemerintah membatalkan kebijakan stop ekspor rotan.
Ketua Perhimpunan Masyarakat Petani, Pekerja, dan Pengumpul Rotan Kotawaringin Timur Dahlan Ismail mengatakan, pihaknya meminta Gubernur Kalteng Agustin Teras Narang segera mengeluarkan surat rekomendasi ekspor rotan kepada pemerintah pusat.
Jika ekspor dihentikan, pemerintah diminta menerapkan solusi. ”Kami minta Pemprov Kalteng menampung rotan-rotan yang menumpuk kalau penutupan ekspor tetap diberlakukan,” ungkap Dahlan.
Ketua Umum Asosiasi Rotan Kalimantan Indonesia (ARKI) Herman Yulius meminta Gubernur Kalteng menghadirkan menteri terkait ke Palangkaraya. ”Mereka harus berdialog dengan para pemetik rotan di Kalteng sepeti yang telah dilakukan di Cirebon, Jawa Barat, pekan lalu,” ujarnya.
Harga rotan di Kalteng pun anjlok dari Rp 2.500 per kilogram menjadi Rp 800 per kg di Kabupaten Katingan begitu rencana stop ekspor mencuat.
Asosiasi Pengusaha Rotan Indonesia mengklaim, Indonesia memiliki 85 persen populasi rotan alam dunia dengan potensi produksi sedikitnya 247.000 ton per tahun. Namun, daya serap industri domestik kurang dari 20.000 ton per tahun.
Di Jakarta, Direktur Jenderal Bina Usaha Kehutanan Kemhut Iman Santoso mengatakan, posisi pemerintah sudah jelas, menyetop ekspor demi meningkatkan utilisasi industri dan ekspor produk rotan nasional. Saat ini, Indonesia menghasilkan rotan alam di luar Jawa 210.000 ton per tahun dan rotan tanaman di Jawa 125.000 ton per tahun.
Rotan termasuk hasil hutan bukan kayu. Produksi rotan alam diharapkan bisa menyejahterakan masyarakat di sekitar hutan agar tidak menebang kayu.
”Kebijakan ini bisa di-review secara cukup nantinya, dengan melihat dari peningkatan utilisasi industri, ekspor meningkat, dan penyerapan bahan baku yang meningkat. Harus ada harga dasar rotan agar petani mendapat insentif sehingga tidak terpancing kembali menjadi pembalak liar,” ujarnya.

