Berita Rotan dan Produk Rotan, Mebel dan Kerajinan Indonesia

Larangan Ekspor Rotan Merugikan


PALU, KOMPAS  Larangan ekspor bahan baku rotan telah menyebabkan pasokan bahan baku menjadi berkurang.

Di Provinsi Sulawesi Tengah, saat ini ribuan petani kehilangan pendapatan dari rotan, sementara ratusan pekerja di industri rotan terpaksa menganggur.

Potensi kehilangan pendapat­an yang dialami Pemerintah Pro­vinsi Sulteng akibat kebijakan tersebut mencapai Rp 175 miliar per tahun. Itu belum termasuk kehilangan dari sejumlah retribusi dan pajak ekspor rotan.

 

Berdasarkan pemantauan Kompas, Kamis (12/4), di Kabupaten Sigi, salah satu wilayah penghasil rotan, banyak petani rotan yang beralih menjadi buruh di tambang emas.

Pilihan menjadi buruh karena saat ini pembelian rotan oleh pabrik rotan setengah jadi sudah berkurang dan kalaupun dibeli terbatas pada jenis tertentu.

"Sudah banyak petani yang berhenti mencari rotan dan men jadi buruh tani. Percuma juga pergi mencari rotan kalau nanti yang mau dibeli dipilih-pilih jenis tertentu saja," kata Yunus (48), petani rotan di Desa Oloboju, Kabupaten Sigi.

Yunus menggambarkan, selama ini sekali masuk ke hutan menghabiskan waktu sedikitnya 10 hari dan membawa hasil sekitar 500 kilogram rotan. Bila dijual Rp 1.500 per kilogram saja, hasilnya berkisar Rp 700.000.

Namun, saat ini dengan hanya mencari dua-tiga jenis rotan, ha­sil yang diperoleh hanya sekitar 200 kilogram.

Effendi Yusuf, salah satu pengusaha rotan, mengakui, upaya pengusaha menaikkan harga hingga Rp 2.500 per kilogram, bahkan lebih, tak membuat pe­tani rotan bertahan.

Sementara itu, Direktur Jenderal Pengembangan Perwilayahan Industri Kementerian Perindustrian Dedi Mulyadi dalam peninjauan di Palu, menyebutkan, setelah diidentifikasi, ternyata kelangkaan rotan terutama disebabkan "kemarahan" sejumlah pengusaha yang selama ini menjadi pengepul rotan.

Pasca-pelarangan ekspor rotan sebagai bahan baku mebel, peng­usaha merasa terganggu kegiatan ekspornya karena semua rotan harus dipasok ke perajin mebel dan kerajinan di dalam negeri.

Dedi mengatakan, sikap peng­usaha yang "marah" tidak akan diajak kompromi. Pemerintah akan melakukan dengan pendekatan langsung kepada petani melalui Pusat Pengembangan Rotan Terpadu yang bekerja sama dengan koperasi.

Data Kementerian Perindus­trian menunjukkan, tahun 2011 ekspor produk jadi rotan (furnitur dan kerajinan) hanya 201,1 juta dollar AS. Adapun pada tiga bulan pertama tahun 2012 sudah mencapai 58,2 juta dollar AS.

Additional information