Berita Rotan dan Produk Rotan, Mebel dan Kerajinan Indonesia
Petani Berkebun untuk Cegah Kerusakan Hutan
- Details
- Last Updated on Friday, 02 April 2010 06:11
- Published on Wednesday, 19 August 2009 15:23
- Hits: 2499
Prakarsa Rakyat, Kutai Barat, Kompas - Walau hasil penjualan rotan tidak lagi mencukupi biaya kebutuhan keluarga, petani di Kutai Barat, Kalimantan Timur, tetap membudidayakan rotan di dalam hutan. Sebagian petani sadar, budidaya rotan dapat mencegah kerusakan hutan.
"Dengan budidaya rotan, petani tidak perlu banyak menebang pohon yang tumbuh alami di kebun," kata Yohanis, petani yang juga Ketua Badan Pelaksana Harian Persatuan Petani dan Perajin Rotan (P3R) Kalimantan Timur, di Kecamatan Damai, Senin (3/7).
gt;Bagi petani di Kutai Barat, khususnya di pedalaman, kebun adalah istilah bagi hutan yang lahannya juga dimanfaatkan untuk menanam aneka tumbuhan bernilai ekonomis dengan sesedikit mungkin merusak pepohonan alam.
Kawasan budidaya rotan di Kutai Barat terletak di sembilan kecamatan sepanjang daerah aliran Sungai Kedang Pahu. Luas areal budidaya itu saat ini 132.555 hektar.
Tahun lalu produksi rotan kabupaten itu 153.403 ton atau 25 persen produksi nasional. Petani pembudidaya rotan di Kutai Barat diperkirakan 30.000 orang.
"Rotan bisa dipanen setiap tiga tahun. Jika menebang pohon, harus menunggu belasan bahkan puluhan tahun sampai pohon tumbuh kembali dan siap ditebang. Kami berharap ada peningkatan harga rotan sehingga budidaya tetap lestari," kata Yohanis.
Pada kurun 1980-1990, harga rotan basah Rp 750 per kilogram (kg). Harga beras pada masa itu adalah Rp 250 per kg. Tahun lalu harga rotan basah Rp 1.000 per kg, sedangkan harga beras sudah mencapai Rp 4.000 per kg.
Menurut Yohanis, P3R terus menyosialisasikan sejumlah program agar budidaya rotan tetap lestari. Organisasi yang berpusat di Kecamatan Damai itu berusaha meningkatkan harga jual rotan dan menambah jumlah anggota.
Rotan dibudidayakan secara turun-temurun sejak abad ke-18 oleh masyarakat Dayak Tunjung dan Benuaq. Menurut Eventius, petani di Kecamatan Damai, kebun rotan dipertahankan karena merupakan jati diri orang Dayak. "Namun, ada juga petani yang menjual kebun pada perusahaan tambang atau mengganti dengan karet," katanya.
Biasanya kebun dijual karena hasil rotan tidak lagi mencukupi kebutuhan keluarga. Bila lahan tidak tidak dijual, petani beralih ke budidaya karet.
Ada 13 jenis rotan yang dibudidayakan di Kedang Pahu. Jenis yang selalu diperdagangkan sepanjang tahun adalah sega (Calamus caesis Blume) dan jahab (Calamus trachycoleus Beccari). Adapun jenis pulut merah (Daemonorops crinita Miq.Bl.) dan pulut putih (Calamus penizillatus Roxb.) diperdagangkan berdasarkan permintaan. (BRO)

