Kumpulan Berita tentang Masyarakat

Masyarakat Adat Beralih ke Modern

Rabu, 28 April 2010 | 04:01 WIB

Ngabang, Kompas - Masyarakat adat Dayak mulai beralih ke pertanian modern dan meninggalkan pola pertanian tradisional. Hal itu dipicu oleh perubahan alam dan tuntutan ekonomi.

Keputusan soal peralihan ke pertanian modern mengemuka dalam Perayaan Adat Dayak Naik Dango Ke-25 tingkat Provinsi Kalimantan Barat di Kecamatan Kuala Behe, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat, Selasa (27/4). Ketua Dewan Adat Dayak Landak Ignatius Ludis mengatakan, perayaan naik dango hendaknya menjadi momentum bagi masyarakat adat Dayak untuk bangkit dari kemiskinan.

 

”Masyarakat adat yang lain bisa sejahtera. Masyarakat adat Dayak juga harus bisa. Kuncinya adalah berubah karena alam berubah. Namun, tetap harus patuh pada hukum adat yang selama ini dianut,” kata Ketua Dewan Adat Dayak Kalimantan Barat Yakobus Kumis.

Menurut Yakobus, dulu nenek moyang masyarakat adat hanya perlu menanam padi untuk memenuhi kebutuhan hidup. Namun, sekarang kebutuhan makin bertambah.

Yakobus menuturkan, dalam suku Dayak terdapat 350 subsuku yang masing-masing berinteraksi dengan pranata sosial dan budaya luar yang berbeda- beda. ”Pengaruh interaksi sosial tidak dapat dihindari. Maka, perlu penguatan lembaga adat, termasuk pemikiran baru, untuk terus mengusahakan agar produksi pangan masyarakat adat bisa surplus,” katanya.

Bupati Landak Adrianus Asia Sidot mengatakan, pola pertanian modern yang diterapkan sebagian masyarakat adat terbukti mampu meningkatkan produksi. Dalam tiga tahun terakhir, produksi gabah di Kabupaten Landak naik dari 198.000 ton menjadi 208.000 ton. Hal ini menempatkan Kabupaten Landak sebagai salah satu kabupaten di Kalbar yang surplus gabah.

”Pola budidaya pertanian modern tanpa meninggalkan hukum adat mutlak menjadi pilihan masyarakat adat agar tidak terjadi kekurangan pangan. Jumlah penduduk Landak tahun 2000 masih 285.000 jiwa, tapi tahun 2009 sudah menjadi 351.000 jiwa. Karena itu, peningkatan produktivitas pangan harus dilakukan,” kata Sidot.

Naik dango adalah perayaan adat subsuku Dayak Kanayatn untuk mengucap syukur setelah masa panen. Wujudnya berupa menyerahkan dan menyimpan hasil panen di rumah betang (rumah adat masyarakat Dayak). Tahun 2010 perayaan naik dango diikuti 23 utusan dari Kabupaten Landak, Kubu Raya, dan Kabupaten Pontianak. (AHA)

Additional information